sumber: www.kisspng.com Pancaran wajah-wajah bahagia memenuhi setiap sudut ruangan. Perjuangan menempuh studi selama 4 tahun akhirnya menemui garis finish. Empat tahun berjibaku dengan buku di tanah perantauan akhirnya membuahkan hasil yang manis. Wisuda, ya siapa sih mahasiswa yang tidak bahagia ketika dia diwisuda? Rasanya plong, setelah berbulan-bulan kejar-kejaran dengan dosen pembimbing, revisi, sidang, revisi lagi, akhirnya toga yang diimpi-impikan dikenakan juga. Bumbu-bumbu corat-coret dosen yang kadang sering dianggap “tidak manusiawi” akhirnya tak perlu kita rasakan lagi. S.Pd, SE., SH., dan S-S yang lain siap mejeng di belakang nama kita. “Udah wisuda nih, setelah ini mau apa ya?” Seperti itulah hidup manusia, tak ada masalah yang benar-benar selesai, tak ada kepuasan yang benar-benar bisa dicapai. Waktu lulus SMA, kita pengen kuliah. Sudah kuliah, pengen cepat-cepat wisuda. Sudah wisuda, pengennya sih langsung kerja. Kalau nggak kerja, pengen cepet-cepet nikah. Tap...
Kebenaran Menurut pandangan saya, pada dasarnya makna kebenaran bertolak belakang dengan makna masalah. Secara sederhana, kebenaran dapat kita artikan sebagai kesesuaian antara apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang benar-benar terjadi. Jika melihat dari realita yang ada, makna ini adalah makna yang sering kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, di Indonesia terdapat peraturan lalu lintas bagi setiap pengendara kendaraan bermotor di jalan raya wajib memiliki SIM. Semua mahasiswa jurusan KI 2012 yang menggunakan sepeda motor ketika bepergian memiliki SIM. Maka, pernyataan tersebut dapat kita katakan sebagai sebuah kebenaran, karena adanya kesesuaian antara apa yang seharusnya terjadi (peraturan) dengan apa yang benar-benar terjadi (menepati aturan). Seperti halnya masalah, kebenaran juga dipengaruhi oleh subjektivitas setiap orang dalam menentukan satu hal itu benar atau tidak. Setiap orang memiliki keyakinan dan pandangan yang berbeda-beda. Perbedaan ke...
sumber: kampusholic.co Salah satu pekerjaan rutin seorang mahasiswa adalah mengerjakan tugas. Berdasarkan pengalaman, rata-rata tugas kuliah itu dikerjakan secara kelompok. Pembagian kelompok pun lebih sering suka-suka dosennya. Alhasil, pembagian secara random ini kadang memaksa untuk menyatukan si malas dan si rajin dalam satu kelompok. Dan yang terjadi adalah, si malas sering tidak ikut mengerjakan tugas karena merasa sudah ada si rajin yang pasti mengerjakan. Ada juga si malas yang tidak ikut mengerjakan karena merasa tidak di ajak oleh si rajin. Meski tidak semuanya, si rajin cenderung tidak percaya dengan hasil pekerjaan si malas. Akhirnya, gayung pun bersambut si rajin akan mengerjakan tugas kelompok ini sendirian dan mengabaikan si malas. Yang penting nilai bagus, si malas paham atau tidak tentang materinya urusan belakangan. Si malas yang terus-terusan diperlakukan seperti ini akan merasa semakin nyaman dengan kemalasannya dan akan semakin menggantungkan nasibnya ke...
Komentar
Posting Komentar